search ya gan..

Kamis, 21 April 2011

blue

Blue Bird Group, nama ini begitu menonjol dalam bisnis taksi di Indonesia. Khususnya di ibu kota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, Blue Bird telah berkembang menjadi perusahaan transportasi darat terkemuka.

Bahkan, sangat sulit dibantah, di antara berbagai merek taksi yang beredar di wilayah Jakarta dan sekitarnya, diferensiasi taksi Blue Bird tampak begitu menonjol.

Diferensiasi itu bukan saja pada sistem IT, database management dan sistem renumerisasi mereka yang baik. Selain itu, dalam hal service, pengemudi Blue Bird juga terkenal lebih baik dan sopan ketimbang supir-supir taksi merek lain.

Pertanyaannya, siapakah sosok dibalik perusahaan taksi yang didirikan sejak 38 tahun silam tersebut?

Dialah Purnomo Prawiro. Dia adalah orang terpenting dibalik perusahaan taksi yang memiliki belasan ribu armada. Dalam CEO Speak yang digelar oleh Binus Business School, Selasa, 9 Agustus 2010, Purnomo Prawiro bercerita bagaimana siasatnya mengelola perusahaan taksi yang melibatkan 20 ribu pengemudi tersebut.

"Proses utama yang harus dilakukan sebelum memberikan service kepada pelanggan adalah peranan dari manusia di perusahaan, khususnya para pengemudi," katanya.

Kemudian, kata dia, berlanjut pada infrastruktur dan sistem manajemen. Sebagai atasan yang membawahi ribuan karyawan, ia berusaha memberikan contoh baik kepada bawahannya.

"Tak perlu susah-susah, cukup memberi ucapan “Selamat pagi” atau “Bagaimana hari ini?” kepada bawahan ketika berpapasan," kata dia.

Seiring perjalanan waktu, slogan “Andal” pun mereka luncurkan. Andal merupakan akronim dari: Aman, Nyaman, Mudah dan Personalize. Jadi, service-nya berkembang. Tidak lagi sekadar mengemban tugas mengantarkan pelanggan dari satu titik ke titik yang lain, tapi disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Slogan “Andal” dijadikan pedoman Blue Bird dalam memberikan service kepada pelanggan. Sang CEO juga berusaha memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.

Dia menekankan slogan Andal harus diaplikasikan oleh karyawan Blue Bird di semua tingkatan. Dari atasan hingga back office dan frontliners yang langsung berhubungan dengan pelanggan. Jika semua karyawan—khususnya pengemudi—merasa nyaman dalam bekerja, maka hal ini akan berdampak pada pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.

Purnomo mengatakan visi melayani yang diterapkan mengacu pada sistem top-down. Artinya, service yang baik harus dimulai pada tingkatan atas yang kemudian berlanjut ke bawah.

Praktisnya, kata dia, pemimpin harus memberikan contoh kepada bawahannya: bagaimana memberikan pelayanan yang baik. "Harapannya, bawahan pun melakukan hal yang sama kepada pelanggan Blue Bird," kata dia.

Kali ini, Binus Business School memilih Purnomo sebagai pembicara lantaran sebagai CEO, dia memiliki gaya kepemimpinan spesial, baik dalam membentuk budaya perusahaan, mengantisipasi perubahan, menggiatkan inovasi dan memaksimalkan sumber dayanya.

"Melalui tangan dingin CEO perusahaan dapat menempatkan perusahaan di posisi teratas dalam bisnis bahkan dapat dikenal di kancah internasional," kata Firdaus Alamsjah, Executive Dean Binus Business School. Kami ingin mendapatkan words of wisdom dari praktisi dan CEO-nya.
Selamat Datang Blue Bird
Selamat datang Blue Bird! Itulah sapaan yang pantas dilontarkan kepada manajemen Blue Bird menjelang beroperasinya di kota ini, salah satu perusahaan taksi terbesar dan terbaik di Indonesia.
Meski kehadiran taksi Blue Bird mengundang kontroversi di kalangan kompetitor perusahaan taksi di Medan, namun bagi warga kota ini, kehadiran Blue Bird sangat dinanti-nanti masyarakat. Persoalannya, warga Medan begitu mengharapkan kehadiran sebuah perusahaan taksi yang benar-benar layak operasi.

Pasalnya, perusahaan taksi yang beroperasi dan layak melayani penumpang saat ini, tercatat hanya sekitar tiga perusahaan. Ketiga perusahaan taksi berkategori nyaman dan memenuhi persyaratan untuk operasi di kota besar seperti Medan, tercatat hanya Taksi Express, Taksi Matra dan sebagian Taksi Karsa. Sementara sejumlah merek taksi lain kondisinya "hidup segan mati tak mau". Bahkan ada yang sudah rontok.

Beberapa merek taksi lainnya, kendati memiliki izin operasi, namun banyak mengecewakan warga, terutama para pendatang yang berkunjung ke kota ini. Bayangkan, ada taksi yang bak naik angkot (angkutan kota), penumpangnya kepanasan.

Ini, karena taksinya tak dilengkapi pera-latan pendingin (air conditioner). Kalaupun ada yang memakai AC, peralatannya tak berfungsi, alias rusak. Belum lagi taksinya kumuh karena tidak dirawat. Gambaran yang mencoreng citra pertaksian Kota Medan ini, acapkali ditemui warga dan para pendatang. Tak sedikit perusahaan-perusahaan taksi yang memberikan pelayanan seperti ini kian hari kian terpinggirkan. Masyarakat pun enggan untuk memanfaatkan mereka sebagai jasa angkutan kota.

Kini, warga punya pilihan lain jika ingin menggunakan (mencarter) taksi, yakni jasa angkutan (mobil) rental. Selain gampang diperoleh dan jauh lebih nyaman, harga carteran yang ditawarkan pun tak jauh beda dengan taksi.

Dengan kondisi armada taksi yang semakin menyurut jumlahnya karena tak diminati warganya, kehadiran Blue Bird diharapkan bisa mengubah citra pertaksian kota ini. Langkah manajemen Blue Bird membidik Kota Medan sebagai sasaran pelebaran sayap operasi mereka bisa dianggap tepat. Ini mengingat pasar pertaksian di daerah ini sebenarnya masih punya potensi, tapi dengan catatan, pengoperasiannya harus dikelola dengan baik. Artinya, pelayanannya jangan sampai mengecewakan calon penumpang.

Perihal masalah persaingan usaha, dimana-mana selalu terjadi. Di dunia bisnis pertaksian pun tak bisa dilepaskan dari persoalan ini. Rasanya wajar jika kehadiran Blue Bird bakal mendapat ganjalan dan tentangan dari sesama perusahaan pertaksian di ibukota Sumatera Utara.

Namun di sisi lain, kehadiran Blue Bird tak hanya diharapkan bisa mendongkrak citra pertaksian di Medan yang sempat terpuruk, tapi juga menjadi cambuk bagi perusahaan taksi di daerah ini, yang selama ini terkesan mengabaikan pelayanan. Selamat beroperasi, Blue Bird!



ATIK dipakai untuk kostum pramugari, karyawan perkantoran dan pegawai negeri, itu sudah biasa dan lazim. Tapi bagaimana jika motif batik juga dikenakan oleh armada taksi pada body mobilnya? Hasilnya, tentu sebuah kejutan nan unik.

Inilah yang dilakukan direksi salah satu operator taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Group (BBG).

Pada Kamis (30/9) pekan lalu, BBG meluncurkan identitas baru perusahaannya kepada masyarakat dengan menampilkan seragam batik biru untuk seluruh pengemudi dan staf operasional BBG serta motif batik pada armada taksi sedan BBG.

Presiden Direktur Blue Bird Group dr.H.Purnomo Prawiro menuturkan, dipilihnya motif batik sebagai identitas baru perusahaannya merupakan wujud dari komitmen perusahaannya dalam menghargai dan melestarikan karya seni batik.

Menurut Purnomo, peluncuran identas baru perusahaan taksinya merupakan bagian dari pencanangan program Tahun Peningkatan Penampilan dan Pelayanan kepada pelanggan.

Peluncuran armada taksi bermotif ini dilakukan untuk menyambut datangnya Bulan Batik Nasional setiap bulan Oktober.

Batik sendiri oleh Badan Perserikatan Bangsa Bangsa, Unesco, sejak 2009 telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia.

“Penegasan dan pembuktian sebuah identitas tidaklah mudah dan bukan perkara gampang mengingat kami harus bisa menggabungkannya dengan visi dan misi perusahaan untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang selama ini merupakan pelanggan kami,” jelas Purnomo.

Pemilihan motif batik pada seragam pengemudi berikut armada kendaraannya, telah mempertimbang nilai filosofi yang ingin disampaikan. “Saya berharap para pengemudi dapat memahami nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya dan bisa memberikan motivasi dalam menjalankan tugas sehari-hari,” lanjut Purnomo.

Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI.

Tjetjep Suparman mengatakan, pemasangan identitas batik pada armada taksi dan pengemudi ikut membantu memperkenalkan ragam budaya Indonesia kepada masyarakat luas dan memberi dampak positif pada industri pariwisata nasional, khususnya di sektor jasa transportasi darat.
MedanBisnis – Medan. Kehadiran taksi Blue Bird diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian di Medan, sekaligus mendorong peningkatan pelayanan kepada penumpang yang membutuhkan layanan taksi.
Head of Public Relations Blue Bird Teguh Wijayanto mengatakan, dalam pengoperasian Blue Bird pihaknya selalu berorientasi kepada pelayanan penumpang. “Kita berusaha memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada penumpang yang memakai jasa taksi Blue Bird,” jelasnya kepada wartawan disela-sela pengoperasian perdana taksi itu di Medan, Senin (1/11).

Teguh mengatakan, pada tahap awal, Blue Bird mengoperasikan sebanyak 100 unit taksi reguler, dari izin yang diperoleh sebanyak 500 unit. Sedangkan jadwal pengoperasian untuk sementara mulai pukul 04.00 WIB-00.00 WIB. Pihaknya telah mendapat izin dari instansi terkait untuk mengoperasikan taksi reguler dengan memakai argometer dengan wilayah kerja di sekitar Kota Medan.

Teguh menepis pandangan, bahwa kehadiran Blue Bird akan merugikan kalangan operator taksi yang telah beroperasi selama ini. Justru, sebutnya, hadirnya Blue Bird akan semakin memberikan banyak pilihan bagi masyarakat.

Lebih lanjut dikatakan, pasar bagi operator taksi di Kota Medan saat ini masih terbuka lebar. “Banyak warga menginginkan layanan taksi yang prima, khususnya bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Hal ini yang menjadi fokus kami,” tuturnya.

Teguh mengakui, untuk mencapai target layanan itu, maka diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan terlatih. “Oleh sebab itu, kami memberikan training khusus kepada pengemudi, seperti bagaimana melayani penumpang, mengemudi yang aman dan nyaman. Dan kita juga sudah memiliki standar operational procedure (SOP),” tuturnya.

Disamping itu, pihaknya juga mempersiapkan infrastruktur pendukung operasional taksi termasuk dengan mengoperasikan kendaraan yang baru. “Sebenarnya, kita beroperasi sesuai dengan aturan yang berlaku. Seperti menerapkan argometer, melayani dengan ramah, meremajakan mobil secara berkala. Artinya, kami fokus kepada pelayanan konsumen,” ungkapnya.

Teguh menegaskan, kehadiran Blue Bird juga berdampak positif kepada penyerapan tenaga kerja di Medan. Hal ini terlihat dari pemakaian SDM lokal di berbagai posisi pada Blue Bird di Medan. “Oleh sebab itu, kami berharap kehadiran Blue Bird di Medan dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi di Kota ini. Selain itu juga dapat memacu operator taksi lokal untuk memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen,” jelasnya.

Peralatan GPS
Sementara manager operasional Sarwanto mengatakan, setiap taksi Blue Bird dilengkapi peralatan global positioning system (GPS) yang berfungsi untuk memantau keberadaan taksi tersebut.

“Sehingga kami dari kantor dapat memantau posisi taksi dengan intensif. Peralatan ini juga mempermudah kami membantu pengemudi jika dia mendapat masalah kejahatan di lapangan,” tuturnya.

Sarwanto mengatakan, pihaknya mengenakan tarif Rp5000 untuk buka pintu, Rp2.500 untuk setiap kilometer dan Rp25.000 per jam untuk waktu tunggu. (hisar hasibuan)

Tidak ada komentar: